Selama berabad-abad, banyak yang mempercayai bahwa bunga matahari memutar kepalanya mengikuti arah matahari karena pengaruh hormon tanaman bernama auxin.
Teori ini mengemukakan bahwa auxin terkonsentrasi di sisi teduh kepala bunga dan batang, sehingga memicu perpanjangan sel lebih cepat di area tersebut, menyebabkan bunga matahari membungkuk ke arah matahari.
Namun, penelitian terbaru mengungkap mekanisme yang lebih kompleks, yang membantah teori ini dan memberikan perspektif baru tentang fenomena heliotropisme pada bunga matahari.
Membantah Teori Auxin: Temuan Baru yang Mengubah Pemahaman
Penelitian terbaru menemukan bahwa distribusi auxin di dasar kepala bunga matahari ternyata merata di kedua sisi, baik sisi yang terkena sinar matahari maupun yang teduh. Hal ini mengindikasikan bahwa auxin bukanlah penyebab utama perilaku bunga matahari yang mengikuti matahari. Penemuan ini mendorong ilmuwan untuk mencari faktor lain yang memengaruhi pergerakan unik tersebut. Jika bukan auxin, apa yang sebenarnya mendorong bunga matahari untuk terus mengikuti matahari?
Eksperimen dengan Cahaya Buatan: Mengungkap Rahasia Pergerakan
Para peneliti kemudian melakukan eksperimen di lingkungan terkendali menggunakan cahaya buatan, seperti lampu neon, untuk meniru sinar matahari. Hasilnya menunjukkan bahwa bunga matahari tidak memutar kepalanya ke arah cahaya buatan, meskipun cahaya datang dari timur pada pagi hari atau dari barat pada sore hari. Kepala bunga tetap diam, mengesampingkan kemungkinan bahwa cahaya itu sendiri adalah pemicu pergerakan.
Sebaliknya, eksperimen dengan sumber panas memberikan hasil berbeda. Ketika sinar matahari diganti dengan sumber panas, seperti api yang terlindung sehingga tidak memancarkan cahaya, bunga matahari aktif memutar kepala ke arah panas, tanpa mempedulikan waktu atau arah. Perilaku ini terus berlangsung, baik siang maupun malam, mengindikasikan bahwa bunga matahari merespons panas, bukan cahaya.
Peran Panas dalam Gerakan Bunga Matahari
Penelitian ini mengungkap bahwa pergerakan bunga matahari adalah respons terhadap panas, bukan terhadap sinar matahari langsung. Ketika panas dari sinar matahari menghangatkan bunga tubular di kepala bunga, serat di dasar bunga berkontraksi. Kontraksi ini menciptakan gaya tarik yang memungkinkan kepala bunga berputar ke arah sumber panas. Mekanisme ini menunjukkan bahwa orientasi bunga matahari merupakan proses aktif yang dipicu oleh rangsangan termal, bukan hanya respons terhadap cahaya.
Bunga Panas: Pemahaman Baru tentang Bunga Matahari
Penemuan ini memberikan sudut pandang baru tentang bunga matahari, yang lebih tepat disebut sebagai "bunga panas" daripada "bunga matahari." Kemampuan bunga matahari untuk mengikuti matahari sepanjang hari ternyata bertujuan untuk mengoptimalkan penyerapan panas, yang mendukung penyerbukan, pertumbuhan biji, dan perkembangan tanaman secara keseluruhan.
Adaptasi Cerdas Tanaman terhadap Lingkungan
Penelitian mengenai heliotropisme bunga matahari mengungkap kompleksitas hubungan tanaman dengan lingkungan mereka. Dengan memahami mekanisme yang mendasari pergerakan bunga matahari, kita dapat lebih menghargai adaptasi cerdas yang dikembangkan tanaman untuk menghadapi rangsangan lingkungan. Gerakan mereka menuju matahari, yang kini diketahui dipengaruhi oleh panas, tetap menjadi keajaiban alam yang mencerminkan kecerdikan evolusi tanaman.