Perjalanan evolusi manusia meninggalkan jejak-jejak menarik, termasuk aspek anatomi yang dulunya memiliki peran penting tetapi kini menjadi hampir usang. Di antara jejak tersebut adalah gigi geraham bungsu, ekor yang dapat ditemukan pada tahap awal perkembangan janin, dan yang paling mencolok, otot aurikular yang terletak di telinga kita.
Meskipun otot-otot ini tampaknya tidak begitu penting saat ini, sebuah penelitian terbaru mengungkapkan bahwa mereka mungkin memiliki peran yang lebih aktif dalam pengalaman mendengar kita daripada yang pernah kita bayangkan sebelumnya.
Kemampuan Mendengar
Secara tradisional, otot aurikular dikenal dengan kemampuan menarik perhatian beberapa orang yang bisa menggerakkan telinganya. Namun, penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Neuroscience pada 31 Januari menunjukkan bahwa otot ini mungkin juga terlibat dalam tugas yang lebih kompleks, yaitu mendengarkan di tengah kebisingan latar belakang. Penelitian ini, yang dipimpin oleh Andreas Schröeer, menggali bagaimana otot-otot ini bekerja dalam situasi yang membutuhkan perhatian mendalam terhadap suara, mengubah pandangan kita tentang potensi manfaatnya.
Aktivitas Otot
Temuan terbaru menunjukkan bahwa otot aurikular superior tidak hanya aktif sebagai refleks, tetapi juga sebagai bagian dari mekanisme perhatian tubuh kita. Para peneliti menggunakan elektromiografi, sebuah teknik untuk mengukur impuls listrik dalam otot, untuk memahami kemampuan mendengar yang terkait dengan otot-otot ini selama tugas mendengarkan. Penelitian mereka mengungkapkan bahwa otot-otot ini mungkin memiliki akar sejarah yang berfungsi untuk meningkatkan deteksi suara dengan mengubah bentuk telinga, membantu cara kita merasakan suara.
Tantangan Dalam Mendengarkan
Dalam eksperimen mereka, para peneliti memantau 20 individu dengan kemampuan mendengar normal. Dengan menempatkan elektroda pada otot aurikular, mereka memutar sebuah audiobook yang dipadukan dengan suara-suara bersaing, secara bertahap meningkatkan tingkat kesulitan tugas mendengarkan. Hasilnya sangat menarik. Otot-otot bereaksi secara berbeda tergantung pada tingkat kesulitan tugas, dengan perhatian khusus pada bagaimana para peserta menilai upaya mendengarkan mereka dan mengidentifikasi gangguan yang ada.
Perubahan Persepsi
Selama eksperimen yang menguji berbagai tingkat kesulitan, tim peneliti menemukan bahwa dua jenis otot aurikular berperilaku dengan cara yang berbeda. Otot aurikular posterior merespons perubahan arah suara, sementara otot aurikular superior terkait dengan tingkat kesulitan tugas. Seiring meningkatnya tantangan, peserta melaporkan semakin tinggi tingkat upaya mereka, yang memperkuat gagasan bahwa otot-otot ini mungkin memberikan indikasi objektif tentang ketegangan dalam mendengarkan, meskipun gerakan fisik mereka sangat kecil.
Melihat ke Depan
Meski temuan ini sangat menarik, para peneliti menekankan pentingnya penelitian lebih lanjut untuk memvalidasi temuan awal ini. Sampel dalam penelitian ini terbatas dan sebagian besar terdiri dari individu muda yang sehat, sehingga penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menjangkau kelompok yang lebih luas. Penelitian di masa depan diharapkan dapat menjelaskan bagaimana aktivitas otot aurikular memengaruhi pengalaman mendengar, terutama pada mereka yang mengalami gangguan pendengaran.
Secara keseluruhan, studi tentang otot aurikular memberikan gambaran yang menarik tentang hubungan antara masa lalu evolusi kita dan kemampuan mendengar kita saat ini. Saat para peneliti terus menggali misteri ini, banyak informasi yang mungkin akan terungkap tentang bagaimana bahkan bagian terkecil dari anatomi kita dapat mempengaruhi kehidupan sehari-hari. Pencarian pengetahuan ini mendorong kemajuan ilmu pengetahuan modern, mengungkapkan bahwa meskipun dalam keadaan yang tampaknya sudah tidak relevan, sisa-sisa dari evolusi tetap bisa menyimpan makna yang mengejutkan.