Dulu, kita menganggap Pluto sebagai planet kesembilan dalam Tata Surya kita. Namun, pada tahun 2006, statusnya berubah.
Ditemukan pada tahun 1930 oleh astronom Clyde Tombaugh di Observatorium Lowell di Arizona, Pluto sebelumnya diterima sebagai planet penuh.
Namun, seiring dengan kemajuan teknologi, para ilmuwan mulai menemukan lebih banyak benda es di luar orbit Neptunus, yang memunculkan pertanyaan mengenai apakah Pluto masih layak dikategorikan sebagai planet.
Kuiper Belt dan Krisis Identitas Pluto
Perdebatan mengenai status Pluto semakin memanas setelah penemuan Objek Belt Kuiper (KBO) pertama pada tahun 1992. Belt Kuiper adalah wilayah luas di luar Neptunus yang dipenuhi dengan benda-benda es mirip dengan Pluto. Penemuan objek seperti Quaoar pada tahun 2002, Sedna pada tahun 2003, dan terutama Eris pada tahun 2005—yang ternyata lebih besar dari Pluto—memaksa para ilmuwan untuk memikirkan kembali definisi planet.
Keputusan Perubahan Status Pluto
Dengan semakin banyaknya objek seperti Pluto yang ditemukan, para astronom membutuhkan definisi yang jelas mengenai apa yang sebenarnya dimaksud dengan planet. Pada tahun 2006, Uni Astronomi Internasional (IAU) mengadakan pertemuan di Praha untuk memutuskan masalah ini. Setelah banyak perdebatan, mereka akhirnya memilih definisi baru, yang menyatakan bahwa sebuah planet harus memenuhi tiga kriteria berikut:
Mengorbit Matahari.
Cukup besar sehingga gravitasinya membentuknya menjadi bola.
Membersihkan orbitnya dari debris lainnya.
Pluto memenuhi dua kondisi pertama, namun gagal memenuhi kondisi ketiga. Karena Pluto berbagi jalur orbit dengan objek lain di Belt Kuiper, maka Pluto secara resmi digolongkan sebagai planet kerdil. Keputusan ini berarti bahwa Tata Surya kita sekarang hanya memiliki delapan planet yang diakui secara resmi.
Perdebatan yang Terus Berlanjut
Meskipun IAU telah membuat keputusan tersebut, banyak ilmuwan yang tidak setuju. Beberapa orang berpendapat bahwa Bumi dan Jupiter juga berbagi orbit dengan objek lain, sehingga definisi tersebut mungkin tidak adil. Alan Stern, ilmuwan utama dari misi NASA New Horizons, menyebut keputusan tersebut sebagai keputusan yang buruk dan terus memperjuangkan agar Pluto dikembalikan statusnya sebagai planet.
Keputusan tersebut juga memicu kontroversi dalam pemungutan suara. Hanya sekitar 10% dari 2.700 astronom yang hadir dalam pertemuan di Praha yang berada di tempat saat keputusan akhir diambil. Sejak saat itu, perdebatan mengenai status Pluto terus berlanjut, baik dalam buku, diskusi publik, maupun acara televisi.
Dengan semakin berkembangnya pengetahuan kita tentang alam semesta, mungkin definisi ini akan berubah lagi di masa depan. Namun untuk saat ini, Pluto tetap menjadi dunia yang menarik, baik sebagai planet kerdil maupun tidak dan tetap layak untuk dijelajahi. Pada tahun 2015, misi New Horizons dari NASA berhasil melakukan penerbangan melintasi Pluto dan mengungkapkan berbagai detail menakjubkan tentang permukaannya, membuktikan bahwa Pluto masih menyimpan banyak rahasia.
Siapa yang tahu? Mungkin suatu hari nanti, kita akan kembali mempertimbangkan apakah Pluto seharusnya kembali dianggap sebagai planet!