Dengan semakin populernya kendaraan energi baru, banyak orang yang bertanya-tanya, Apakah kendaraan ini benar-benar lebih ramah lingkungan dibandingkan kendaraan berbahan bakar fosil?
Pada tahun 2023, penjualan kendaraan energi baru di seluruh dunia mencapai 14,28 juta unit, yang setara dengan 22% dari total penjualan mobil global.
Di Tiongkok, proporsi kendaraan energi baru telah melebihi 50%, artinya untuk setiap dua mobil baru yang terjual, satu di antaranya adalah kendaraan energi baru. Lalu, seberapa besar pengurangan emisi karbon yang dapat dicapai dengan kendaraan energi baru dibandingkan kendaraan berbahan bakar fosil? Berdasarkan penelitian yang mengkaji seluruh siklus hidup mulai dari produksi, penggunaan, hingga daur ulang, emisi karbon kendaraan berbahan bakar fosil sekitar 1,5 kali lebih tinggi dibandingkan kendaraan energi baru, dan perbedaan ini akan semakin besar seiring dengan meningkatnya proporsi energi bersih.
Keunggulan Emisi Karbon dari Kendaraan Energi Baru
Industri otomotif merupakan salah satu penyumbang utama emisi karbon. Di Tiongkok, sektor transportasi menyumbang sekitar 7,5% dari total emisi, dan kendaraan berbahan bakar fosil merupakan kontributor utama. Salah satu keunggulan besar dari kendaraan energi baru adalah tidak adanya emisi gas buang. Berdasarkan data dari Shandong Electric Power Company, kendaraan energi baru dapat mengurangi emisi karbon dioksida sebesar 9,78 kilogram per 100 kilometer perjalanan. Jika 6 juta kendaraan energi baru melakukan perjalanan sejauh 1.000 kilometer per bulan, maka dapat mengurangi emisi karbon sebesar 7,04 juta ton per tahun, yang setara dengan emisi tahunan dari hampir 1 juta orang. Di antara kendaraan energi baru, kendaraan listrik murni (EV) memiliki efek pengurangan karbon yang paling signifikan. Penelitian menunjukkan bahwa kendaraan listrik murni dapat mengurangi emisi karbon hingga 21,38% dibandingkan dengan kendaraan berbahan bakar fosil, sementara kendaraan hibrida plug-in hanya mengurangi sekitar 5,40%.
Selain itu, semakin lama jarak tempuh kendaraan energi baru, semakin jelas pula keuntungan lingkungan yang diperoleh. Rencana Aksi Kendaraan Rendah Karbon Tiongkok pada tahun 2021 menunjukkan bahwa "74%" dari emisi karbon di industri mobil penumpang berasal dari tahap penggunaan, sehingga kendaraan energi baru menjadi lebih ramah lingkungan jika digunakan dalam jangka panjang.
Emisi Selama Siklus Hidup: Kendaraan Energi Baru Tetap Unggul
Dari tahap penambangan bahan baku, produksi, penggunaan, hingga daur ulang, emisi karbon keseluruhan kendaraan energi baru tetap lebih rendah dibandingkan dengan kendaraan berbahan bakar fosil. Misalnya, studi yang dilakukan di Brasil menunjukkan bahwa emisi karbon kendaraan listrik murni sepanjang siklus hidupnya hanya 151 gram per kilometer, sedangkan untuk kendaraan berbahan bakar fosil mencapai 291 gram per kilometer, hampir dua kali lipat lebih tinggi. Studi serupa di Amerika Serikat juga menemukan bahwa kendaraan berbahan bakar fosil menghasilkan emisi sebanyak 260 gram per kilometer sepanjang siklus hidupnya, sedangkan kendaraan energi baru hanya menghasilkan 180 gram per kilometer.
Namun, pada tahap produksi, kendaraan berbahan bakar fosil memiliki emisi yang lebih rendah. Hal ini disebabkan oleh proses produksi baterai kendaraan energi baru yang menghasilkan emisi karbon yang lebih tinggi. Tetapi, jika dilihat dari keseluruhan siklus hidup, emisi kendaraan energi baru masih jauh lebih rendah dibandingkan dengan kendaraan berbahan bakar fosil.
Tahap daur ulang juga memegang peranan penting. Saat ini, emisi karbon kendaraan energi baru setelah proses pembongkaran dan pembuangan sampah hanya menyumbang 4,5% dari total siklus hidupnya. Namun, daur ulang baterai dapat mengurangi emisi pada tahap produksi hingga 34%. Hingga Oktober 2023, Tiongkok telah membangun lebih dari 10.000 outlet daur ulang baterai untuk mempromosikan daur ulang dan pengolahan baterai yang ramah lingkungan.
Energi Bersih Memperkuat Keunggulan Kendaraan Energi Baru
Beberapa orang khawatir bahwa kendaraan energi baru masih bergantung pada pembangkit listrik berbahan bakar fosil. Memang, saat ini sekitar 69,95% dari listrik di Tiongkok berasal dari pembangkit listrik berbahan batubara. Namun, meskipun demikian, konsumsi energi kendaraan energi baru tetap 42% lebih rendah dibandingkan dengan kendaraan berbahan bakar fosil. Pada saat yang sama, proporsi energi bersih di Tiongkok semakin meningkat pesat, dengan energi terbarukan saat ini telah mencapai lebih dari 30%, dan diperkirakan akan mencapai 25% pada tahun 2030 serta 80% pada tahun 2060. Pemerintah Tiongkok juga telah mengeluarkan kebijakan untuk mempercepat pengembangan energi surya, angin, dan nuklir, serta mendorong penerapan energi hidrogen.
Mobil Hidrogen: Kemungkinan Masa Depan?
Selain elektrifikasi, kendaraan berbahan bakar hidrogen juga semakin mendapatkan perhatian. Kepadatan energi hidrogen adalah 3,2 kali lebih besar dibandingkan dengan bensin dan menghasilkan nol emisi karbon, sehingga dianggap sebagai sumber energi bersih yang paling ideal. Jepang kini memimpin dalam bidang energi hidrogen, dengan Toyota memegang 6.000 paten, setengah dari jumlah paten di dunia. Tiongkok juga berusaha keras untuk membangun 428 stasiun pengisian hidrogen, menjadikannya negara dengan jumlah stasiun terbanyak di dunia. Pada tahun 2035, diperkirakan akan ada lebih dari 5.000 stasiun pengisian hidrogen, dengan laju pertumbuhan produksi dan penjualan kendaraan sel bahan bakar hidrogen yang sudah melebihi 70%.
Baik dari segi emisi langsung maupun emisi sepanjang siklus hidup, kendaraan energi baru jelas lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan kendaraan berbahan bakar fosil. Seiring dengan berkembangnya teknologi daur ulang baterai dan meningkatnya penggunaan energi bersih, keunggulan ini akan semakin besar.
Di masa depan, energi hidrogen mungkin akan menjadi pilihan baru, tetapi saat ini, kendaraan listrik murni tetap menjadi solusi terbaik. Jadi, apakah Anda akan memilih kendaraan energi baru sekarang, ataukah menantikan popularisasi kendaraan berbahan bakar hidrogen? Diskusikan dengan kami!