Pernahkah Anda mendengar istilah "inflammaging"? Meskipun terdengar seperti jargon pemasaran, fenomena ini sebenarnya mencerminkan masalah kesehatan yang sangat penting. Inflammaging merujuk pada peradangan kronis tingkat rendah yang muncul seiring dengan respons sistem kekebalan tubuh terhadap ancaman yang dianggap oleh tubuh.
Ketika faktor penuaan bergabung dengan peradangan ini, risikonya dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami penyakit jantung, kanker, penyakit Alzheimer, dan kondisi serius lainnya.
Meskipun setiap orang mengalami peradangan seiring bertambahnya usia, tingkat keparahannya bisa berbeda-beda antara individu. Para ilmuwan menekankan pentingnya pemahaman yang lebih mendalam tentang proses ini, karena bukti-bukti yang berkembang menunjukkan dampak merugikan dari inflammaging. Penelitian terus dilakukan untuk menemukan pengobatan yang tepat, sambil mendorong peningkatan dalam diagnostik. Namun, dalam waktu yang sama, perubahan gaya hidup sederhana, seperti rutin berolahraga, tidur yang cukup, serta mengonsumsi makanan yang kaya akan buah dan sayuran, dapat membantu mengurangi peradangan.
Menurut Luigi Ferrucci, seorang pakar gerontologi dari National Institute on Aging (NIA) Amerika Serikat, peradangan merupakan faktor mendasar dalam penyakit kronis. Istilah "inflammaging" pertama kali diperkenalkan oleh Claudio Franceschi, seorang profesor imunologi emeritus di Universitas Bologna, pada tahun 2000, dan sejak saat itu istilah ini dikenal sebagai ciri khas penuaan.
Peradangan itu sendiri bukanlah hal yang berbahaya. Ia merupakan mekanisme pertahanan alami tubuh untuk melawan cedera atau infeksi dan membantu proses pemulihan. Namun, peradangan kronis berbeda dengan peradangan akut. Peradangan kronis bertahan dalam jangka waktu lama dan malah menyebabkan kerusakan alih-alih penyembuhan. Seiring bertambahnya usia, tubuh mulai merespons apa yang ia anggap sebagai ketidakteraturan, seperti sel-sel perut yang menumpuk. Salah satu penyebab peradangan ini adalah selular senesensi, di mana sel-sel yang menua berhenti membelah dan mulai melepaskan protein-protein inflamasi. Peradangan kronis berperan penting dalam beberapa penyakit terkait usia yang paling parah, bertindak sebagai pemicu sekaligus memperburuk kondisi tersebut. Ini menciptakan siklus yang berbahaya: peradangan menyebabkan kerusakan jaringan, yang kemudian memicu peradangan lebih lanjut.
Sebuah analisis terhadap sampel darah dari lebih dari 160.000 individu menunjukkan bahwa tingkat peradangan yang tinggi berhubungan dengan peningkatan tujuh kali lipat risiko kematian. Studi jangka panjang pada wanita juga menemukan bahwa mereka yang memiliki tingkat peradangan lebih tinggi menghadapi risiko 70% lebih besar untuk mengalami penyakit jantung atau kematian terkait penyakit kardiovaskular.
Peradangan kronis juga menjadi faktor kunci dalam penyakit Alzheimer. Seiring waktu, plak dan kusut yang menumpuk di otak memicu respons inflamasi yang terus-menerus. Proses ini berujung pada penurunan kemampuan kognitif dan berbagai komplikasi lainnya. Inflammaging berkontribusi pada berbagai kondisi, antara lain:
- Penurunan Kognitif dan Penyakit Alzheimer: Kerusakan yang menumpuk mengganggu fungsi otak.
- Kanker: Peradangan kronis dapat memicu mutasi atau menghambat kemampuan sistem kekebalan tubuh dalam melawan sel tumor.
- Aterosklerosis: Peradangan mempercepat penumpukan plak di arteri, yang meningkatkan kemungkinan terjadinya serangan jantung.
- Degradasi Tulang: Mengganggu kemampuan tubuh dalam memperbaiki dan mempertahankan struktur kerangka tubuh.
- Penyakit Ginjal: Peradangan kronis mengurangi kemampuan ginjal dalam memperbaiki dirinya sendiri.
Tes darah dapat mendeteksi tanda-tanda peradangan, seperti protein C-reaktif sensitivitas tinggi (hs-CRP) dan laju endap darah (ESR). Namun, tes ini seringkali tidak dapat membedakan antara peradangan jangka pendek dan kronis, serta tidak dapat mengidentifikasi penyebab yang mendasarinya, yang bisa berasal dari kondisi seperti artritis, penyakit hati, atau penyakit autoimun lainnya.
Mencari pengobatan untuk mengelola peradangan tanpa merusak sistem kekebalan tubuh adalah tantangan yang kompleks. Sebagai contoh, colchicine, yang telah lama digunakan untuk mengobati gout, kini disetujui untuk menangani peradangan pada pasien dengan risiko tinggi penyakit kardiovaskular. Para peneliti juga tengah menguji obat-obatan seperti agonis reseptor GLP-1 (glucagon-like peptide-1) dan obat anti-inflamasi lainnya untuk mereka yang berisiko terkena penyakit jantung.
Beberapa obat, seperti metformin dan rapamycin, menunjukkan potensi dalam mengurangi peradangan, meskipun masih diperlukan uji klinis lebih lanjut untuk memastikan efektivitasnya.
Namun, perubahan gaya hidup tetap menjadi pertahanan terbaik terhadap peradangan kronis. Aktivitas fisik yang rutin, menjaga berat badan yang sehat, dan menghindari kebiasaan buruk sangat penting. Diet seimbang juga memiliki peranan besar. Diet Mediterania, yang menekankan konsumsi kacang-kacangan, biji-bijian, ikan, buah-buahan, dan sayuran, telah terbukti memiliki manfaat anti-peradangan, sementara konsumsi daging merah justru dapat memperburuk peradangan.
Bagi kesehatan otak, tidur yang cukup, idealnya tujuh hingga delapan jam per malam, merupakan faktor yang sangat penting. Tidur memberi kesempatan bagi otak untuk membersihkan protein amyloid yang menyebabkan peradangan. Tidur dalam fase tidur nyenyak, menurut para ilmuwan saraf, berfungsi sebagai "siklus pembersihan" yang membantu mengurangi efek merugikan dari inflammaging.
Jangan Abaikan Inflammaging, Mulailah Perubahan Gaya Hidup Anda Sekarang Juga!