Sepanjang sejarah, cerita tentang hubungan dengan benda-benda langit telah menarik perhatian banyak orang, mulai dari mitos tentang matahari yang jatuh hingga klaim kepemilikan modern.


Salah satu kisah yang cukup mengejutkan datang dari seorang wanita asal Spanyol, Ángeles Durán, yang menghebohkan dunia dengan mengklaim dirinya sebagai pemilik Matahari. Lalu, bagaimana ia bisa membuat klaim ini menjadi kenyataan? Berikut adalah kisah lengkapnya!


Siapakah Ángeles Durán, dan Bagaimana Ia Mengklaim Matahari?


Ángeles Durán, yang lahir pada tahun 1961, sebelumnya adalah seorang pengacara yang kurang dikenal. Namun, namanya mulai mencuat pada tahun 2010 setelah mengajukan klaim luar biasa ini. Inspirasi Durán muncul ketika ia mempelajari Perjanjian Luar Angkasa, yang sering disebut sebagai "konstitusi ruang angkasa". Perjanjian ini bertujuan untuk mengatur aktivitas internasional di luar angkasa, dan melarang negara-negara untuk mengklaim kedaulatan atas benda-benda langit.


Namun, saat mempelajari perjanjian ini, Durán menemukan celah hukum yang menarik. Meskipun negara-negara dilarang mengklaim kepemilikan atas benda langit, perjanjian tersebut tidak secara eksplisit menyebutkan individu. Memanfaatkan celah ini, Durán mengajukan permohonan kepada kantor sertifikasi Spanyol untuk mendaftarkan Matahari sebagai properti pribadinya.


Awalnya klaim ini dianggap tidak masuk akal, namun Durán semakin mendapat perhatian ketika ia menghadirkan argumen hukum yang kuat dengan merujuk pada undang-undang internasional dan nasional. Setelah melalui proses verifikasi yang ketat, akhirnya petugas memberikan dokumen notaris yang mengesahkan klaimnya. Sertifikat tersebut menggambarkan Matahari dengan ketelitian ilmiah, menyebutkan bahwa Matahari adalah bintang tipe G2 yang terletak di pusat sistem tata surya, sekitar 149,6 juta kilometer dari Bumi.


Monetisasi Matahari: Langkah Selanjutnya dari Durán


Dengan kepemilikan sah atas Matahari, Durán mengumumkan rencananya untuk mengenakan biaya penggunaan sebesar $1 dari setiap individu yang mendapatkan manfaat dari energi dan cahaya Matahari. Dengan jumlah populasi global sekitar 7,8 miliar orang, biaya ini bisa menghasilkan pendapatan sebesar $7,8 miliar setiap tahunnya.


Durán kemudian merinci bagaimana pendapatan tersebut akan dialokasikan:


- 50% akan diberikan kepada pemerintah Spanyol


- 20% untuk dana pensiun bagi orang tua


- 10% untuk mendanai penelitian energi surya


- 10% lainnya untuk membantu mengatasi kelaparan global


- Sisa 10% akan menjadi penghasilan pribadinya.


Meskipun rencana distribusi tersebut tampak mulia, pengumuman Durán disambut dengan keraguan dan cemoohan. Banyak yang menganggap idenya absurd, dengan reaksi online yang bervariasi mulai dari humor hingga kritik tajam. Beberapa orang mempertanyakan kelayakan membayar untuk mendapatkan cahaya matahari, sementara yang lain dengan bercanda menyarankan untuk mendaftarkan benda langit lainnya untuk menghasilkan uang.


Bahkan, mantan Wakil Presiden AS, Al Gore, sempat mengambil langkah hukum, menuntut Durán atas dugaan pemanasan global yang disebabkan oleh Matahari.


Tuntutan Hukum dan Usaha Kreatif


Kepemilikan Matahari oleh Durán juga memunculkan tuntutan hukum dari beberapa individu yang menuntut kompensasi akibat sengatan sinar matahari, ketidakmerataan distribusi sinar, dan keluhan lainnya. Durán pun membela diri dengan membandingkan kasusnya dengan pemilik piaraan yang diadopsi, dengan argumen bahwa kepemilikan baru tidak berarti bertanggung jawab atas tindakan masa lalu.


Ketika sengketa hukum ini mereda, Durán mengalihkan perhatian pada usaha lain: menjual "tanah" di Matahari. Di eBay, ia mulai menjual lahan solar seharga €1 per meter persegi. Tak disangka, ia menerima lebih dari 600 pesanan sebelum eBay akhirnya menangguhkan akunnya dengan alasan aktivitas penipuan.


Namun, Durán tidak menyerah dan menggugat eBay untuk ganti rugi sebesar €10.000 dan mengembalikan akunnya. Negosiasi penyelesaian di luar pengadilan gagal karena Durán menuntut kejelasan terkait jumlah kompensasi yang akan diterimanya. Pada akhirnya, PBB turun tangan dan dikabarkan memberikan penyelesaian sebesar $500.000 agar Durán melepaskan klaimnya. Setelah menerima penyelesaian tersebut, Durán akhirnya mengakhiri klaim kepemilikan Matahari dan mendapatkan pengakuan di kalangan dunia hukum, bahkan menerima tawaran dari firma hukum terkemuka.


Preseden Klaim Kepemilikan Benda Langit


Tindakan berani Durán bukanlah yang pertama kali. Pada tahun 1980, Dennis Hope, seorang pengusaha asal California, juga menemukan celah yang sama dalam Perjanjian Luar Angkasa dan mengklaim kepemilikan atas Bulan serta benda langit lainnya dalam tata surya.


Klaim Hope tidak mendapat tantangan berarti, dan ia mendirikan “Lunar Embassy” yang menjual plot tanah di Bulan seharga $24,99 per acre. Kliennya termasuk lebih dari 2,3 juta orang, termasuk Presiden AS Ronald Reagan dan Jimmy Carter, serta banyak selebritas Hollywood. Pembeli juga bisa membeli “Paspor Lunar” seharga $22,99 sebagai bentuk kewarganegaraan simbolis.


Pada tahun 2005, sebuah perusahaan yang berbasis di Tiongkok mengklaim sebagai perwakilan resmi Hope di Tiongkok dan menjual tanah Bulan seharga 298 yuan per acre. Namun, operasi ini akhirnya ditutup karena dianggap melakukan spekulasi untuk meraup keuntungan.


Munculnya Hak Penamaan Benda Langit


Beberapa tahun terakhir, membeli hak penamaan untuk benda langit mulai menjadi tren. Beberapa perusahaan menawarkan layanan untuk memberi nama bintang atau asteroid sebagai hadiah. Meskipun ini bersifat simbolis, transaksi ini semakin populer di kalangan mereka yang ingin memberikan kenang-kenangan unik kepada orang tercinta.


Sebagai contoh, drama Tiongkok "Nothing But Thirty" menampilkan sebuah cerita di mana seorang karakter membeli hak penamaan sebuah bintang. Pembelian serupa telah menjadi gerakan umum untuk menunjukkan kasih sayang kepada orang yang dikasihi atau selebritas, meskipun transaksi tersebut tidak diakui secara resmi.


Klaim Durán yang tidak biasa terhadap Matahari menggambarkan ketidakpastian dalam hukum luar angkasa dan menunjukkan bagaimana celah hukum bisa dieksploitasi. Meskipun aksinya memicu tawa dan kontroversi, klaim tersebut juga memunculkan pertanyaan penting tentang kepemilikan dan komersialisasi benda langit. Seiring manusia terus menjelajah ruang angkasa, regulasi yang lebih jelas diperlukan untuk menangani klaim seperti ini dan memastikan bahwa ruang angkasa tetap menjadi sumber daya bersama, bukan alat untuk keuntungan pribadi.