Bayangkan mengambang di luar angkasa, melihat Bumi dari kejauhan seperti titik biru kecil yang indah.
Bagi para astronaut di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), pemandangan luar biasa ini adalah bagian dari rutinitas harian mereka. Tapi pernahkah Anda bertanya-tanya, bagaimana cara mereka makan di sana, 400 kilometer di atas permukaan Bumi?
Artikel ini akan mengulas secara mendalam bagaimana para astronaut mendapatkan makanan mereka di luar angkasa. Mulai dari perencanaan nutrisi, teknologi penyimpanan makanan, hingga tantangan unik dalam menyantap hidangan tanpa gravitasi.
Bagaimana Makanan Astronaut Dirancang?
Makan di luar angkasa tentu sangat berbeda dengan makan di Bumi. Tanpa gravitasi, segala hal menjadi lebih rumit, termasuk urusan perut. Maka dari itu, makanan para astronaut dirancang secara khusus oleh para ahli gizi, fisikawan, dan ilmuwan pangan agar memenuhi kebutuhan nutrisi sekaligus tetap praktis dikonsumsi di ruang tanpa gravitasi.
Tubuh manusia mengalami berbagai perubahan dalam kondisi mikrogravitasi. Massa tulang dan otot bisa berkurang secara signifikan. Sistem kardiovaskular pun beradaptasi, menyebabkan cairan tubuh bergerak ke bagian atas dan membuat wajah astronaut terlihat sedikit membengkak, sebuah kondisi yang dikenal sebagai "moon face". Selain itu, penyerapan nutrisi penting seperti zat besi dan vitamin D menjadi tidak seefisien di Bumi.
Untuk mengatasi hal ini, makanan di luar angkasa diperkaya dengan nutrisi penting seperti kalsium, vitamin D, dan protein, guna menjaga kesehatan tulang dan otot astronaut selama misi berlangsung.
Apa Saja yang Dimakan Astronaut di Luar Angkasa?
Meski terdengar terbatas, pilihan makanan di ISS sebenarnya cukup beragam. Sebagian besar makanan dikemas dalam bentuk kering beku (freeze-dried), dehidrasi, atau dikalengkan agar tahan lama dan aman dikonsumsi dalam jangka waktu panjang.
Beberapa makanan umum yang sering dikonsumsi termasuk buah kering, kacang-kacangan, sup kering, pasta, nasi, dan tortilla (sebagai pengganti roti karena tidak menimbulkan remah). Makanan ringan seperti kue, cokelat, dan snack energi juga tersedia.
Minuman disajikan dalam kantong khusus dengan sedotan untuk mencegah tumpahan. Para astronaut dapat menikmati kopi, teh, jus buah, dan air putih. Karena adanya perubahan pada indera penciuman akibat pergeseran cairan tubuh, rasa makanan bisa terasa hambar. Oleh karena itu, makanan pedas seperti yang mengandung lobak pedas atau saus sambal sering ditambahkan agar rasa tetap terasa nikmat.
Rutinitas Makan Para Astronaut
Astronaut biasanya makan tiga kali sehari: sarapan, makan siang, dan makan malam, ditambah camilan jika diperlukan. Asupan kalori harian diperkirakan sekitar 3.000 kalori untuk pria dan 2.000 kalori untuk wanita. Menu biasanya diatur dalam siklus 7–8 hari dan diulang selama masa misi.
Agar makanan tetap awet, sebagian besar makanan luar angkasa telah melalui proses pengawetan seperti pengeringan atau iradiasi, yang bertujuan untuk membunuh bakteri dan mencegah jamur.
Contoh Menu Harian Astronaut
Untuk sarapan, para astronaut mungkin menyantap sereal dengan susu bubuk, yogurt beku-kering, dan telur orak-arik. Saat makan siang dan malam, mereka dapat memilih dari menu seperti pasta kering dengan saus, nasi dengan ayam, sup sayur, kacang-kacangan, keju, dan ikan dengan saus tartar.
Selain itu, setiap astronaut biasanya diizinkan membawa sejumlah kecil “makanan bonus” pilihan pribadi, seperti lasagna atau makanan khas dari negara asal mereka.
Makanan yang Tidak Boleh Dibawa ke Luar Angkasa
Beberapa jenis makanan dilarang karena berisiko dalam kondisi tanpa gravitasi. Misalnya, roti tidak diperbolehkan karena remah-remahnya bisa beterbangan dan merusak peralatan sensitif. Garam dan merica pun tidak tersedia dalam bentuk bubuk, melainkan dalam bentuk cair yang lebih mudah dikendalikan.
Bagaimana Cara Memasak dan Makan di Luar Angkasa?
Memasak di luar angkasa jauh berbeda dari di Bumi. Tidak ada kompor terbuka atau api karena alasan keamanan. Air pun tidak bisa direbus karena tidak ada gravitasi yang menahan gelembung air.
Sebagai gantinya, astronaut menggunakan alat pemanas khusus seperti microwave dan pemanas induksi untuk menyiapkan makanan. Makanan dikemas dalam porsi individual untuk mencegah kontaminasi. Bumbu tambahan diberikan dalam bentuk cair agar mudah digunakan.
Untuk menyantap makanan, astronaut menggunakan nampan dan peralatan makan khusus yang dilengkapi magnet atau Velcro agar makanan tidak melayang. Bahkan piring dan nampan didesain khusus agar makanan tetap berada di tempat.
Meski makan di luar angkasa penuh tantangan, para astronaut tetap bisa menikmati waktu makan bersama dan berbagi makanan favorit, menciptakan momen keakraban di antara kru meski jauh dari Bumi.
Evolusi Makanan Luar Angkasa
Makanan luar angkasa telah berkembang jauh sejak misi pertama di tahun 1960-an. Dulu, makanan dikemas dalam tabung seperti pasta gigi atau berbentuk tablet. Rasanya tidak enak, tapi fungsional.
Mulai tahun 1970-an, makanan kering beku menjadi lebih umum. Para astronaut mulai bisa menikmati hidangan yang lebih lengkap seperti daging, kentang, dan sayuran. Kini, menu makanan luar angkasa jauh lebih beragam dan bahkan mencakup makanan dari berbagai negara.
Teknologi pengawetan yang terus berkembang membuat rasa dan nilai nutrisi makanan tetap terjaga. Bahkan, kini sedang dikembangkan cara menanam makanan segar di luar angkasa menggunakan sistem hidroponik dan aeroponik.
Perkembangan makanan luar angkasa adalah gabungan dari sains, teknologi, dan kreativitas. Seiring dengan semakin jauhnya perjalanan manusia menjelajahi luar angkasa, kebutuhan akan makanan yang lezat, bergizi, dan praktis akan semakin penting.
Dengan inovasi yang terus berkembang, kehidupan para astronaut di luar angkasa menjadi lebih nyaman, dan mereka bisa tetap fokus menjalankan misi, tanpa harus mengorbankan kenikmatan menyantap hidangan favorit mereka.
Jika Anda penasaran seperti apa rasanya makan sambil mengambang di luar angkasa, siapa tahu suatu saat Anda pun bisa mencobanya!