Halo teman-teman! Kebanyakan dari kita nggak terlalu mikir dua kali saat pilih pot bunga. Cari yang lucu, cek ukurannya “kelihatan pas,” lalu selesai.


Tapi kalau tanaman hias kamu terus-terusan mati atau struggle meskipun udah disiram hati-hati, ada yang perlu dipikirkan: mungkin bukan cara nyiram kamu yang salah—bisa jadi potnya. Aku belajar dari pengalaman pahit.


Pothos ku yang tadinya sehat tiba-tiba layu dan daunnya menguning setelah aku “upgrade” ke pot keramik cantik. Pas sadar apa masalahnya, akarnya udah jadi bubur. Ternyata aku nggak butuh pupuk lebih baik atau lebih banyak sinar matahari—aku cuma butuh pot yang bikin akar bisa bernapas. Kalau kamu pernah ngalamin ini juga, yuk kita gali bareng. Panduan ini buat siapa aja yang pengen tanaman bahagia dan sehat tanpa root rot ngerusak kesenangan.


Alasan Sebenarnya Tanaman Busuk di Pot


Root rot nggak terjadi karena kita kurang sayang sama tanaman. Ironisnya, biasanya justru karena kita terlalu sayang—dan overwatering tanpa sadar potnya nahan air. Pot yang salah pilih bisa bikin rutinitas nyiram yang sempurna jadi hukuman mati buat akar.


1. Nggak ada lubang drainase


Kalau air nggak bisa keluar, dia bakal ngumpul di dasar pot. Akar nggak bisa bernapas. Jamur dan bakteri seneng banget. Itu lingkungan impian buat root rot. Pot apa pun—nggak peduli seberapa cantik—yang nggak punya lubang drainase itu berisiko, apalagi buat pemula. Selalu, selalu cek bawah potnya.


2. Pot kebesaran


Lebih besar bukan berarti lebih baik buat repotting. Pot yang terlalu gede nyimpan terlalu banyak tanah basah di sekitar akar. Pilih pot yang cuma 1–2 inci lebih lebar dari bola akar saat ini. Ini bikin akar tumbuh stabil tanpa tenggelam di tanah yang nggak kepake.


3. Bahan pot yang salah


Beda bahan, beda cara tangani kelembapan. Ini rinciannya:


Terracotta: Menyerap air. Cocok buat tanaman yang suka tanah kering kayak sukulen, tapi tanah bisa cepet kering di ruangan panas.


Plastik: Tahan kelembapan lebih lama. Ideal buat tanaman tropis yang suka agak lembap.


Keramik (glazed): Nahan air kayak plastik, tapi lebih berat. Pastiin ada lubang drainase, kalau nggak bakal repot.


Beton atau logam: Stylish tapi riskan. Sering n מחיר nggak ada drainase dan bisa kepanasan kalau kena sinar matahari.


4. Lupa aturan tatakan


Meskipun pot punya lubang, kalau air di tatakan dibiarkan ngumpul berjam-jam atau berhari-hari, airnya bakal nyerap balik ke tanah. Selalu kosongin tatakan dalam 30 menit setelah nyiram.


Pilih Pot yang Tepat dengan Cara yang Benar


Sekarang kita tahu apa yang nggak boleh dilakukan, berikut cara pilih pot yang bikin tanaman hijau kamu sukses:


Mulai dari tanaman. Ketahui apakah tanaman suka tanah kering (kayak kaktus atau snake plant) atau lembap (kayak pakis atau peace lily). Ini nentuin bahan pot yang paling cocok.


Cari pot “bernapas” kayak terracotta kalau kamu khawatir kebanyakan air. Mereka secara alami menyerap kelembapan dan kurangin risiko akar basah.


Pakai cachepot dengan cerdas. Kalau kamu jatuh cinta sama pot tanpa lubang, jangan tanam langsung di situ. Taruh pot plastik berlubang di dalamnya. Jadi kamu dapet tampilan cantik plus fungsi.


Repot bertahap. Kalau tanamanmu root-bound, naik cuma satu ukuran pot—bukan tiga. Loncatan besar bisa bikin tanaman kaget dan nyimpan terlalu banyak tanah.


Cek kelembapan tanah. Tusuk jari sekitar 5 cm ke dalam tanah. Masih lembap setelah 3–4 hari? Potnya mungkin kurang bagus drainasenya.


Kalau tanaman kamu terus mati dan kamu nggak tahu kenapa, masalahnya mungkin bukan kamu—mungkin potnya! Kabar baiknya, paham soal masalah pot seperti drainase buruk atau ukuran salah bisa akhirnya bantu kamu cegah root rot selamanya.


Share Perjalanan Tanamanmu!


Pernah ngalamin bencana pot atau berhasil nyelametin tanaman? Ceritain dong! Tulis di kolom komentar tips kamu buat pilih pot yang tepat (atau kesalahan yang ngajarin kamu pelajaran). Lain kali nemu pot lucu tanpa lubang drainase di toko, kamu bakal tahu kenapa lebih baik lewat aja.