Bakteri merupakan kelompok besar organisme heterotrof yang tidak memiliki klorofil sehingga tidak mampu melakukan fotosintesis. Organisme ini juga tidak memiliki akar, batang, maupun daun yang berbeda secara struktural seperti pada tumbuhan sejati.


Sebagian besar bakteri tidak mengandung pigmen fotosintetik, meskipun ada beberapa jenis yang memiliki kemampuan terbatas untuk melakukan fotosintesis. Sebagai organisme heterotrof, bakteri memperoleh nutrisi dari materi organik di sekitarnya, baik sebagai saprofit (pengurai) maupun parasit.


Jamur, yang mencakup sekitar 120.000 spesies yang telah dikenal, juga memiliki struktur yang sederhana dan tidak memiliki organ-organ seperti akar, batang, dan daun. Mereka biasanya hidup di tempat lembap dan gelap serta berkembang di lingkungan seperti air, tanah, udara, hingga tubuh organisme lain, baik hewan maupun tumbuhan.


Tiga Kelompok Jamur: Mucor, Bakteri, dan Fungi


Jamur dapat dibagi ke dalam tiga kelompok utama berdasarkan karakteristiknya, yakni: filum Bakteri, filum Mucor, dan filum Fungi. Ketiga kelompok ini sebenarnya tidak memiliki hubungan evolusioner yang erat, namun sering dikelompokkan bersama karena memiliki kesamaan dalam struktur dasar dan cara hidup.


Organisme lendir seperti mucor menempati posisi antara hewan dan jamur. Pada fase pertumbuhan aktif (tahap trofik), mereka berbentuk massa protoplasma multinukleat tanpa dinding sel, mirip dengan amoeba. Namun, ketika memasuki fase reproduktif, mereka membentuk spora dengan dinding sel dari selulosa, memperlihatkan sifat-sifat yang menyerupai jamur sejati.


Struktur Tubuh Jamur yang Unik


Jamur tidak memiliki struktur yang kompleks. Mereka terdiri dari filamen-filamen yang disebut hifa, yang membentuk jaringan yang dikenal sebagai miselium. Jamur tidak memiliki pigmen seperti klorofil, sehingga hidup secara heterotrof, yaitu dengan menyerap nutrisi dari lingkungan sekitarnya.


Ketika mencapai tahap tertentu dalam siklus hidupnya, jamur akan memasuki fase reproduksi dan membentuk struktur reproduktif yang disebut badan buah. Pada fase ini, jamur dapat berkembang biak secara aseksual maupun seksual.


Reproduksi Jamur: Aseksual dan Seksual


Reproduksi aseksual dilakukan dengan diferensiasi langsung dari miselium menjadi spora aseksual tanpa melalui proses peleburan inti atau pembelahan meiosis. Ciri khas dari reproduksi ini adalah pembentukan spora secara langsung dari hifa.


Reproduksi seksual biasanya terjadi pada tahap akhir pertumbuhan jamur. Dalam proses ini, dua inti sel dari jenis kelamin berbeda akan bergabung dan menjalani pembelahan meiosis, menghasilkan spora seksual. Pada sebagian besar jamur mikoriza, organ seksual (disebut gametangia) terbentuk dari miselium dan mengalami peleburan untuk membentuk struktur seksual.


Proses reproduksi seksual ini terdiri dari tiga tahap: penyatuan sitoplasma (plasmogami), penyatuan inti (kariogami), dan pembelahan meiosis. Plasmogami terjadi saat sitoplasma dan inti dari dua sel berbeda bersatu dalam satu sel, membentuk fase binukleat (N+N). Selanjutnya, kariogami terjadi saat kedua inti tersebut bergabung menjadi satu inti diploid (2N), yang kemudian menjalani meiosis menghasilkan empat inti haploid (N), kembali ke keadaan awal.


Peran Ekologis yang Tak Tergantikan


Jamur dan bakteri memainkan peran penting dalam ekosistem sebagai pengurai alami. Setiap hari, berbagai organisme mati dan menghasilkan limbah organik seperti daun gugur dan sisa makhluk hidup. Tanpa keberadaan jamur dan bakteri, limbah organik ini akan menumpuk dan mengganggu keseimbangan lingkungan.


Bakteri dan jamur bekerja dengan mengurai senyawa kompleks menjadi senyawa anorganik sederhana, sehingga nutrisi dapat kembali ke tanah dan digunakan kembali oleh tumbuhan. Proses ini sangat penting dalam siklus materi alami yang mendukung kehidupan di Bumi.


Jamur dalam Kehidupan Manusia


Selain perannya di alam, jamur juga memiliki hubungan erat dengan kehidupan manusia. Beberapa jenis jamur memiliki nilai ekonomi dan kesehatan yang tinggi. Misalnya, ragi digunakan dalam pembuatan roti, sementara berbagai obat penting berasal dari jenis jamur tertentu. Selain itu, banyak jamur yang dapat dikonsumsi, seperti jamur kuping dan jamur kancing, yang menjadi bagian penting dalam dunia kuliner.


Meskipun sering dianggap sepele karena ukurannya yang kecil dan bentuknya yang sederhana, bakteri dan jamur memegang peranan besar dalam keseimbangan dan kelangsungan hidup ekosistem. Mereka bukan hanya "pembersih" alam, tetapi juga sumber berbagai manfaat yang menyentuh kehidupan sehari-hari.