Banyak laporan yang menyebutkan bahwa perubahan iklim menyebabkan banyak spesies hewan punah, mulai dari gletser yang mencair di taman nasional hingga kebakaran hutan yang melanda kawasan hutan di California.
Di seluruh dunia, banyak spesies yang mengalami penurunan dengan angka yang sangat mengkhawatirkan.
Sebuah studi dari Universitas Arizona yang melibatkan 976 spesies menunjukkan bahwa 47% telah menghilang dari beberapa wilayah. Hewan-hewan punah lebih cepat dibandingkan tumbuhan, dengan tingkat kepunahan mencapai 50% dibandingkan 39%. Spesies air tawar adalah yang paling terpengaruh, dengan 74% terancam punah, dibandingkan dengan 46% untuk spesies darat dan 51% untuk spesies laut. Di tengah semua kabar buruk ini, ada satu mamalia kecil yang menonjol: pika Amerika Utara. Berbeda dengan banyak spesies yang hampir punah, populasi pika justru menunjukkan angka yang menggembirakan, membuktikan bahwa alam kadang memberikan kejutan yang menyenangkan.
Pada tahun 1990-an, para peneliti menemukan bahwa populasi pika di beberapa wilayah mengalami penurunan antara 7 hingga 25 persen, yang kemungkinan besar disebabkan oleh perubahan iklim. Mengingat pika hidup di daerah pegunungan tinggi yang sejuk, suhu yang lebih panas diperkirakan membuat mereka terpaksa berpindah ke wilayah yang lebih tinggi. Banyak laporan media yang kemudian memberitakan bahwa pika berada di ambang kepunahan.
Namun, Adam Smith, seorang ahli biologi dari Universitas Arizona, baru-baru ini mengoreksi informasi tersebut. Menurutnya, pika ternyata beradaptasi dengan sangat baik dan bahkan mengalami peningkatan jumlah populasi. Ia bahkan bercanda tentang para pendaki di Sierra Nevada, California, yang mengatakan kepada dirinya bahwa mereka pernah membaca laporan yang salah mengenai kepunahan pika. Fakta ini menunjukkan bahwa tidak semua cerita tentang perubahan iklim berakhir dengan bencana.
Pika memiliki bentuk tubuh yang mengingatkan kita pada perpaduan antara tikus dan kelinci, dengan perilaku yang tak kalah menarik. Smith telah mempelajari pika selama lebih dari 50 tahun dan ia tidak pernah bosan mengamati mereka. Pada musim panas, pika mengumpulkan rumput dan daun-daunan untuk membuat tumpukan hay yang akan mereka konsumsi saat cuaca dingin. Mereka tidak tidur panjang seperti hewan lainnya, tetapi menyimpan makanan untuk kebutuhan mereka. Dengan bulu cokelat muda yang menyerupai bebatuan di sekitarnya, pika sering kali hanya bisa terlihat jika kita memperhatikannya dengan seksama saat mereka bersuara untuk memberi peringatan kepada sesama.
Berukuran antara 121 hingga 176 gram dan panjang sekitar 10,5 hingga 28,5 cm, pika memiliki telinga yang bulat dan pendek yang tampak lebih besar dari ukuran tubuhnya. Mereka tidak memiliki ekor yang terlihat, dan dua pasang gigi atas mereka sangat membantu untuk merumput, mirip dengan kelinci. Tidak heran jika mereka disebut pika, kecil, lucu, dan efisien!
Pika terutama menghuni daerah pegunungan utara, hidup di antara tumpukan batu yang dikenal dengan istilah talus. Daerah ini biasanya terletak di tepi hutan atau tebing batu di seluruh Kanada dan Amerika Serikat. Penelitian awal dari Smith menunjukkan bahwa suhu tubuh normal pika yang cukup tinggi bisa menjadikan mereka rentan terhadap lingkungan yang lebih panas. Namun, mereka memiliki strategi yang cerdas untuk bertahan hidup: ketika cuaca menjadi terlalu panas, mereka akan bersembunyi lebih dalam di dalam tumpukan batu yang sejuk.
Suhu juga memengaruhi sejauh mana pika dapat bergerak. Cuaca panas membatasi aktivitas mereka, sementara suhu yang lebih sejuk memungkinkan mereka untuk menjelajah ke habitat baru. Pika awalnya berasal dari Tiongkok dan menyebar ke Amerika Utara sekitar lima juta tahun yang lalu. Fosil mereka ditemukan di daerah seperti Pegunungan Appalachian dan Gurun Mojave, meskipun mereka tidak lagi ditemukan di tempat-tempat tersebut.
Saat ini, pika dapat ditemukan hampir di seluruh habitat pegunungan tinggi di bagian barat Amerika Serikat dan Kanada. Survei menunjukkan bahwa mereka ditemukan di 98% lokasi yang sesuai di Colorado dan Nevada tengah. Bahkan di lokasi-lokasi historis seperti Taman Nasional Yosemite dan Kings Canyon, tidak ada bukti bahwa mereka telah bermigrasi akibat pemanasan global.
Menariknya, wilayah-wilayah di mana pika menghilang adalah daerah-daerah kecil dan terisolasi yang sering terpengaruh oleh aktivitas manusia, seperti penggembalaan ternak. Suhu bukanlah faktor utama penyebab kepunahan mereka di tempat-tempat tersebut, habitatnya memang tidak ideal lagi. Ini menunjukkan bahwa perubahan iklim bukanlah satu-satunya tantangan yang dihadapi oleh pika.
Pika ternyata sangat adaptable. Beberapa populasi mereka bahkan bertahan hidup di daerah yang lebih panas, seperti Bodie, California, Mono Crater, dan Moon-shaped Pit National Reserve di Idaho. Saat siang hari, mereka bersembunyi di tempat yang lebih sejuk dan mencari makan di malam hari. Pika dari daerah dataran rendah mengonsumsi tumbuhan yang berbeda dengan pika dari dataran tinggi, bahkan beberapa di antaranya tetap lebih kecil ukurannya.
Populasi pika yang unik juga ada di dekat permukaan laut di Columbia River Gorge, Oregon. Di sini, mereka bertahan hidup dengan mengonsumsi lumut sepanjang tahun, mempertahankan wilayah kecil, dan bersembunyi di hutan teduh ketika suhu meningkat. Perilaku cerdas ini menunjukkan betapa fleksibelnya pika dalam menghadapi perubahan iklim.
Smith, dengan pengalaman penelitiannya selama puluhan tahun tentang pika, yakin bahwa populasi mereka aman di wilayah inti pegunungan barat, di mana habitat dingin masih luas dan terhubung dengan baik. Pika dapat berpindah antar tumpukan batu tanpa harus melintasi area yang terlalu panas.
Kemampuan mereka untuk beradaptasi dengan lingkungan yang lebih hangat menunjukkan bahwa mereka lebih tangguh daripada yang diperkirakan banyak penelitian. Kehilangan beberapa individu di ujung-ujung wilayah persebaran mereka tidak berarti kepunahan sudah dekat. Pika, dengan kecerdasan mereka yang luar biasa, berhasil bertahan dan bahkan berkembang di tengah perubahan lingkungan yang dramatis.
Kisah tentang pika Amerika Utara mengingatkan kita tentang pentingnya ketahanan dalam menghadapi perubahan. Meski banyak spesies lain menghadapi kesulitan besar, mamalia kecil ini menunjukkan kepada kita bahwa alam memiliki kejutan yang tak terduga. Dengan pengamatan yang cermat, kita dapat membedakan antara cerita nyata dan cerita yang dilebih-lebihkan. Mari dukung para penghuni bebatuan yang cerdas ini dan belajar dari cara mereka beradaptasi dalam dunia yang terus berubah!