Sebagai respons terhadap kekhawatiran lingkungan, banyak tempat usaha yang menggantikan sedotan plastik dengan alternatif berbahan kertas. Meskipun sedotan kertas dianggap ramah lingkungan, temuan terbaru menunjukkan bahwa sedotan ini dapat menimbulkan risiko kesehatan karena keberadaan zat perfluoroalkil dan polifluoroalkil (PFAS).
Zat ini sering disebut sebagai "kimia abadi". Meskipun jumlah PFAS yang masuk melalui sedotan kertas terbilang minimal, sifatnya yang persisten dapat menyebabkan akumulasi di dalam tubuh seiring waktu, yang akhirnya berisiko menimbulkan masalah kesehatan yang serius, seperti kolesterol tinggi, gangguan tiroid, hingga kanker.
PFAS adalah senyawa sintetis yang dihargai karena ketahanannya terhadap air dan minyak. Sifat ini membuatnya banyak digunakan pada berbagai produk sehari-hari, seperti peralatan masak anti lengket, pakaian tahan air, hingga kemasan makanan sekali pakai. Namun, sifatnya yang hampir tidak dapat dihancurkan membuat PFAS sulit untuk terurai, sehingga dapat bertahan lama di lingkungan dan tubuh manusia. Seorang ahli gizi, Huang Pin-Hsuan, mengungkapkan temuan dari sebuah studi Belgia yang dipublikasikan dalam Food Additives & Contaminants, yang menunjukkan bahwa 90% sedotan kertas yang diuji mengandung kadar PFAS yang terdeteksi. Penemuan ini mengungkapkan bahwa produk yang seharusnya mengurangi dampak lingkungan justru dapat membawa risiko yang tak terduga.
Menurut Huang, meskipun kadar PFAS yang masuk ke dalam tubuh melalui sedotan kertas kemungkinan kecil, efek kumulatifnya seiring waktu sangat mengkhawatirkan. Begitu masuk ke dalam tubuh, zat kimia ini sangat sulit untuk terurai, yang dapat menyebabkan masalah kesehatan. Berbagai penelitian telah mengaitkan paparan jangka panjang terhadap PFAS dengan peningkatan kadar kolesterol, masalah tiroid, kanker testis, hingga gagal hati. Dr. Liu Bo-Ren, seorang spesialis gizi fungsional, juga mengungkapkan adanya hubungan antara PFAS dengan penyakit hati, kerusakan ginjal, beberapa jenis kanker, gangguan endokrin, hingga diabetes.
Meski dampak buruk dari PFAS sudah diketahui, penggunaan senyawa ini masih sangat luas, bahkan pada barang-barang rumah tangga seperti peralatan makan sekali pakai dan bahan yang tahan terhadap air. Untuk mengurangi risiko paparan PFAS melalui sedotan kertas, para ahli menyarankan untuk mencari alternatif yang lebih aman. Salah satunya adalah penggunaan sedotan stainless steel yang tahan lama dan dapat digunakan berulang kali, yang menghilangkan risiko paparan bahan kimia. Sedotan dari kaca dan silikon juga merupakan pilihan yang layak bagi mereka yang menginginkan bahan non-toksik. Alternatif lain yang sederhana namun efektif adalah dengan langsung meminum dari gelas, yang tidak hanya menghindarkan dari paparan PFAS, tetapi juga mengurangi ketergantungan pada barang sekali pakai.
Meskipun sedotan kertas diperkenalkan sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan dibandingkan plastik, akibat sampingan yang tidak terduga ini menunjukkan betapa kompleksnya upaya untuk menyeimbangkan tujuan lingkungan dengan pertimbangan kesehatan. Bagi konsumen, memilih alternatif yang lebih aman tidak hanya mendukung upaya keberlanjutan, tetapi juga mengutamakan kesejahteraan pribadi. Di sisi lain, produsen dan pelaku bisnis perlu fokus untuk mengembangkan produk yang benar-benar ramah lingkungan dan memperhatikan standar keselamatan. Dengan mengatasi kekhawatiran ini, kita bisa bergerak menuju masa depan di mana keberlanjutan dan kesehatan dapat hidup berdampingan tanpa harus saling mengorbankan.