Saffron, dikenal luas sebagai rempah termahal di dunia, bukan sekadar bumbu dapur biasa. Di balik warna keemasannya yang mencolok dan aroma khasnya yang menggoda, tersimpan kisah luar biasa tentang kerja keras, ketelitian, dan nilai budaya yang tinggi.
Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa sejumput kecil saffron bisa dijual dengan harga selangit? Apakah karena warnanya, rasanya, atau karena ada sesuatu yang lebih dari itu? Mari menyelami dunia saffron, memahami proses panjang dari ladang ke dapur, dan mengungkap kenapa rempah satu ini disebut juga "emas merah".
Saffron berasal dari bunga Crocus sativus, yang mekar dengan warna ungu mencolok di musim gugur. Tanaman ini tumbuh setinggi 10 hingga 30 sentimeter, dengan bagian dasar berbentuk umbi yang disebut corm. Namun, bukan seluruh bunga yang digunakan, melainkan hanya bagian sangat kecil di dalamnya—yaitu tiga helai benang merah tipis yang disebut stigma. Inilah bagian yang kemudian dikeringkan dan menjadi saffron yang dikenal.
Karena hanya sebagian kecil bunga yang digunakan, maka jumlah saffron yang dihasilkan sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah bunga yang dibutuhkan. Inilah alasan utama mengapa saffron begitu langka dan berharga tinggi.
Saffron sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu dan kini dibudidayakan di berbagai wilayah dunia yang memiliki iklim kering dan hangat. Beberapa negara penghasil saffron utama berada di wilayah Mediterania, Afrika Utara, Eropa Selatan, serta Asia Barat seperti Iran, India (terutama Kashmir), dan Tiongkok bagian barat.
Tanaman ini tumbuh subur di tanah yang kaya mineral dan membutuhkan cuaca yang sejuk di malam hari serta hangat di siang hari. Proses budidayanya memerlukan perhatian khusus agar hasilnya optimal.
Inilah inti dari tingginya nilai saffron. Untuk menghasilkan satu pon saffron kering, dibutuhkan sekitar 50.000 bunga Crocus sativus. Jumlah ini sangat besar, dan yang lebih menantang lagi, bunga saffron hanya mekar selama satu hingga dua minggu dalam setahun, biasanya di musim gugur.
Proses panennya pun tidak bisa dilakukan dengan mesin. Stigma harus dipetik secara manual dengan tangan yang sangat hati-hati agar tidak rusak. Biasanya para petani bekerja dalam waktu yang sangat terbatas dan berpacu dengan waktu agar kualitas bunga tidak menurun. Setelah dipetik, stigma harus segera dikeringkan agar tidak berjamur dan tetap memiliki aroma dan warna yang maksimal.
Seluruh proses ini sangat padat karya, teliti, dan memerlukan tenaga manusia terlatih. Tidak heran jika harga saffron begitu tinggi.
Karena kelangkaan dan proses produksinya yang kompleks, harga saffron di pasar grosir bisa mencapai lebih dari Rp8 juta per pon, dan bahkan bisa lebih mahal saat sampai di tangan konsumen, yakni sekitar Rp15 juta atau lebih per pon. Oleh karena itu, saffron dijuluki sebagai "emas merah" karena nilainya yang tinggi melebihi harga emas dalam berat yang sama.
Namun, meski mahal, sedikit saja saffron sudah cukup untuk memberi cita rasa, aroma, dan warna yang luar biasa pada makanan.
Saffron tidak hanya digunakan dalam dunia kuliner, tetapi juga memiliki sejarah panjang dalam penggunaan lain. Di dapur, saffron sering digunakan dalam masakan khas seperti paella dari Spanyol, risotto dari Italia, hingga nasi kebuli dan biryani dari Asia Selatan. Cukup beberapa helai saja untuk memberikan warna kuning keemasan dan aroma yang kaya.
Di luar dapur, saffron telah lama dimanfaatkan sebagai pewarna alami untuk kain dan pakaian. Selain itu, dalam pengobatan tradisional, saffron digunakan untuk membantu mengatasi gangguan pencernaan dan menjaga kebugaran tubuh. Penelitian modern kini juga tengah mengeksplorasi manfaat saffron untuk kesehatan mental dan penuaan.
Kini setelah mengetahui betapa luar biasanya proses di balik sejumput saffron, saatnya melihat rempah ini dengan sudut pandang berbeda. Dari ladang penuh bunga ungu yang hanya mekar di musim gugur, hingga ke dapur sebagai sentuhan akhir masakan mewah, saffron adalah karya alam dan manusia yang luar biasa.
Apakah Anda pernah mencicipi masakan yang menggunakan saffron? Atau mungkin penasaran ingin mencoba memasak dengan rempah ini di rumah? Bagikan pengalaman dan resep favorit Anda. Siapa tahu, inspirasi dari Anda bisa jadi motivasi bagi Lykkers lainnya untuk mencoba memasak dengan "emas merah" ini!
Satu rempah, sejuta cerita, saffron bukan sekadar bumbu, melainkan keajaiban yang layak untuk diapresiasi.