Scroll saja sebentar di Instagram atau TikTok milik Gen Z.


Anda akan langsung disambut oleh barisan tanaman hias yang menghiasi feed mereka, dari sukulen lucu dalam pot unik, tanaman lidah mertua yang tahan banting, hingga monstera dengan daun lebar yang dramatis.


Tapi ini bukan cuma tren musiman biasa. Di balik pot-pot cantik itu, tersembunyi sebuah pergerakan budaya yang mencerminkan cara baru dalam menjalani hidup.


Merawat tanaman kini menjadi simbol gaya hidup yang melekat erat pada identitas banyak anak muda. Aktivitas ini menyatukan ketenangan emosional, ekspresi diri, hingga koneksi sosial, semua dalam bentuk yang sederhana tapi berdampak besar. Jadi, apa sebenarnya yang membuat "plant parenting" atau merawat tanaman begitu menggema di hati Gen Z? Mari kita telusuri lebih dalam.


Tanaman Sebagai Penjaga Keseimbangan Emosi


Di tengah derasnya arus digital yang serba cepat dan kadang melelahkan, kehadiran tanaman memberikan sentuhan nyata yang menenangkan. Menurut banyak ahli kesehatan mental, kegiatan merawat tanaman mampu menumbuhkan rasa mindfulness, menurunkan stres, dan menciptakan tanggung jawab yang sehat, tanpa beban seperti dalam interaksi sosial yang rumit.


Dr. Maya Thompson, seorang psikolog klinis yang fokus pada kesejahteraan anak muda, menjelaskan:


"Bagi Gen Z yang menghadapi tekanan dari media sosial, kekhawatiran akan masa depan, serta tantangan ekonomi, merawat tanaman menjadi ritual yang menenangkan. Setiap pertumbuhan daun baru atau akar yang mulai muncul adalah kemenangan kecil yang memberi semangat dan rasa percaya diri."


Proses ini jauh dari hiruk-pikuk kehidupan digital. Aktivitas menyiram, memangkas, atau hanya mengamati pertumbuhan tanaman memberi sensasi keterhubungan dengan alam, bahkan bagi mereka yang tinggal di apartemen mungil di tengah kota besar.


Tanaman Sebagai Cerminan Identitas Sosial


Bagi Gen Z, merawat tanaman bukan hanya hobi, ini juga menjadi pernyataan identitas. Koleksi tanaman yang dirawat dengan penuh cinta tak jarang dijadikan cara untuk mengekspresikan kepribadian, gaya hidup berkelanjutan, serta komitmen terhadap perawatan diri.


Rumah-rumah Gen Z kini dipenuhi elemen hijau yang dikurasi dengan estetika tinggi. Tanaman disandingkan dengan furnitur hasil thrifting, dekorasi handmade, hingga produk ramah lingkungan. Semua ini menciptakan visual yang bukan hanya indah, tetapi juga sarat makna.


Tak hanya itu, muncul pula komunitas daring dan influencer yang fokus pada tanaman langka, teknik propagasi, atau cara styling tanaman indoor. Dari sinilah tercipta ruang belajar, berbagi, dan membangun hubungan sosial yang sehat. Bahkan, beberapa di antaranya menjadikannya sebagai ladang bisnis kecil-kecilan, menjual bibit, pot, hingga jasa penataan tanaman.


Pola Konsumsi yang Mewakili Nilai-Nilai Baru


Fenomena "plant parenting" juga mencerminkan pergeseran nilai dalam cara Gen Z mengonsumsi sesuatu. Mereka cenderung memilih pengalaman dibandingkan barang mewah, serta lebih peduli terhadap keberlanjutan dan etika dalam berbelanja.


Sebuah studi dari Sustainable Futures Institute pada 2023 mencatat bahwa 68% konsumen Gen Z membeli tanaman atau produk terkait karena mereka menganggapnya sebagai cara untuk menyatu dengan alam sekaligus merawat kesehatan mental. Mereka juga semakin selektif terhadap brand—memilih yang transparan, bertanggung jawab, dan peduli terhadap lingkungan.


Namun, tren ini juga menimbulkan pertanyaan: Apakah semua tanaman dibeli secara etis? Apakah ada spesies yang terancam karena permintaan tinggi? Untuk itu, para ahli menyarankan agar generasi muda lebih bijak dalam membeli, memilih tanaman dari pembibitan lokal, memperbanyak melalui propagasi, serta menghindari spesies invasif.


Plant Parenting: Bukan Sekadar Hobi, tapi Gaya Hidup


Bagi banyak orang muda, merawat tanaman kini menjadi bagian dari rutinitas yang tak terpisahkan. Gaya hidup ini menawarkan banyak manfaat, mulai dari ketenangan batin hingga koneksi sosial yang bermakna. Beberapa ciri khasnya antara lain:


Ritual harian: Menyiram, memangkas, dan merawat tanaman dilakukan secara rutin dan penuh kesadaran, mirip meditasi.


Semangat belajar: Mereka giat mencari informasi tentang jenis tanaman, cara mengusir hama alami, hingga prinsip berkebun yang berkelanjutan.


Komunitas aktif: Terlibat dalam forum daring, ikut acara tukar tanaman, hingga bergabung dengan komunitas lokal yang peduli lingkungan.


Di tengah dunia yang serba tidak pasti, merawat tanaman menjadi simbol harapan dan kontrol atas hal-hal kecil. Setiap tunas baru adalah harapan. Setiap daun yang tumbuh sehat adalah bukti bahwa perawatan dan kesabaran tak pernah sia-sia.


Jadi, bagaimana dengan Anda? Apakah tanaman telah mengubah suasana hati Anda sehari-hari? Mungkin Anda mulai rutin berbagi tips perawatan dengan teman, atau menemukan ketenangan saat menyentuh tanah dan daun.