Hai, Lykkers! Pernahkah Anda mencium aroma begitu asing dan membumi, seolah-olah membawa Anda ke dunia lain? Itulah yang saya alami musim semi lalu di sebuah kebun urban di tengah kota. Saya membungkuk ke arah tanaman yang rimbun berdaun hijau keperakan, lalu menghirup dalam-dalam, aromanya asing, pedas, hampir terasa mistis. “Itu silphium,” kata si petani. “Orang Romawi mencintainya. Bahkan memujanya. Mereka pikir tanaman itu punah.” Saya terpana.
Bagaimana mungkin sebuah tanaman yang telah dianggap punah selama lebih dari 2.000 tahun bisa muncul kembali? Ternyata, kini tengah berlangsung sebuah gerakan diam-diam: menghidupkan kembali tanaman-tanaman bersejarah yang pernah menjadi tulang punggung peradaban kuno. Dari kuil beraroma dupa di Mesir kuno, hingga apotek jalanan Roma dan jalur rempah suku Maya, herbal dan bumbu yang terlupakan sedang digali kembali, ditanam ulang, dan dipelajari lagi, bukan hanya karena rasanya, tetapi juga karena cerita, ritual, dan khasiat penyembuhannya.
Mari kita telusuri tiga tanaman luar biasa dari Mesir kuno, Roma, dan dunia Maya, dan bagaimana Anda bisa menanam atau mencicipinya hari ini.
Buka saja toples berisi biji fenugreek, dan Anda akan mencium aroma yang aneh tapi akrab dengan manis, bernuansa kacang, hampir seperti sirup maple. Tapi biji emas kecil ini memiliki makna jauh lebih dalam bagi masyarakat Mesir kuno dibanding sekadar bumbu dapur.
Fenugreek digunakan dalam ritual mumifikasi, parfum, bahkan sebagai persembahan untuk para dewa. Namun, kegunaannya tidak berhenti di situ. Tabib Mesir menggunakannya untuk mengobati berbagai kondisi, mulai dari gangguan pernapasan hingga pemulihan pasca-melahirkan. Bijinya direndam dan dikunyah, direbus menjadi tonik, atau ditumbuk menjadi pasta untuk pengobatan luka.
Yang mengejutkan, sains modern kini mulai mengejar ketinggalannya. Dalam sebuah tinjauan tahun 2022 di jurnal Phytotherapy Research, fenugreek terbukti memiliki potensi dalam membantu menyeimbangkan kadar gula darah, mengurangi peradangan, dan meredakan ketidaknyamanan menstruasi. Ternyata, orang-orang kuno memang tahu apa yang mereka lakukan. Anda juga bisa menanamnya sendiri di rumah:
1. Rendam biji fenugreek semalaman sebelum ditanam.
2. Gunakan pot yang lebar dan dangkal, atau bedengan tanah dengan sistem drainase yang baik agar akar tidak tergenang air.
3. Tabur langsung dan jaga kelembapan tanah; tunas muncul dalam 3–5 hari.
4. Panen daun muda dalam 20–30 hari sebagai microgreens atau tunggu 6–8 minggu untuk memanen bijinya.
Daun dan bijinya bisa dimakan. Daunnya memiliki rasa agak pahit, mirip bayam, dan sangat cocok digunakan dalam roti pipih atau hidangan tumis. Sementara bijinya bisa dipanggang ringan untuk mengeluarkan aroma maple dan kari.
Menambahkan sesendok bumbu kuno ini ke dalam masakan Anda bukan sekadar menambah rasa, tapi juga menghubungkan Anda dengan budaya yang menghargai biji ini sebagai sumber misteri dan penyembuhan.
Silphium adalah salah satu tanaman paling misterius dalam sejarah. Nilainya begitu tinggi di Roma kuno (dan sebelumnya di Yunani), sampai-sampai gambarnya tercetak di koin. Orang Romawi menggunakannya sebagai bumbu, bahan dasar parfum, bahkan sebagai obat. Tapi sekitar abad ke-1 Masehi, tanaman ini menghilang, diduga punah karena terlalu banyak dipanen.
Namun, beberapa tahun terakhir, sekelompok ahli botani di kawasan Mediterania menemukan tanaman dengan sifat yang hampir identik. Meskipun belum dipastikan secara genetik sebagai silphium, tanaman ini memiliki karakteristik dan aroma kuat yang sangat mirip.
Apa yang membuat silphium begitu dicintai?
1. Rasanya yang kuat, mirip bawang putih, dan mewarnai masakan tanpa mendominasi.
2. Digunakan untuk mengobati batuk, gangguan pencernaan, bahkan dipercaya sebagai kontrasepsi oleh sebagian sejarawan.
3. Biji berbentuk hati dari tanaman ini banyak digunakan dalam seni Romawi, diduga menjadi cikal bakal simbol “love” modern.
Silphium sejati memang belum bisa dibudidayakan, tapi kerabat terdekatnya, Ferula tingitana, bisa ditanam di iklim Mediterania atau di rumah kaca. Tanaman ini menyukai tanah berpasir, sinar matahari penuh, dan sedikit air.
Meskipun belum bisa dikonsumsi langsung, para peneliti kini bekerja mengembangkan ekstrak dan aplikasi kuliner yang aman, dengan harapan suatu hari tanaman ini bisa kembali masuk dapur kita.
Di bukit hijau lembab kawasan Maya kuno, hoja santa bukan sekadar bahan masak. Ia adalah obat, pembungkus, dan bagian dari ritual.
Daun berbentuk hati ini memiliki aroma lembut seperti adas manis dan sassafras. Orang Maya menggunakannya untuk membungkus tamale, memberi rasa pada sup, hingga membantu pencernaan. Hingga kini, hoja santa masih digunakan di beberapa hidangan tradisional—meski di luar daerah asalnya, baru mulai dikenal.
Menanam Piper auritum, nama botani hoja santa, ternyata cukup mudah:
1. Tanaman ini menyukai tanah lembap, lokasi semi-teduh, dan iklim hangat.
2. Bisa tumbuh hingga 2–2,5 meter jika tidak dipangkas.
3. Daunnya bisa dipetik kapan saja, biasanya 3–6 bulan setelah ditanam.
Selain sebagai penyedap alami, hoja santa juga dikenal membantu kesehatan pencernaan dan menenangkan perut, khasiat yang sudah dikenal oleh komunitas adat sejak berabad-abad.
Yang paling menarik? Daun hoja santa bisa menggantikan aluminium foil atau plastik saat mengukus makanan. Aromatik, mudah terurai, dan kaya akan tradisi kuno.
Menanam tanaman yang pernah mewarnai minuman Cleopatra atau dijual di pasar Roma kuno bukan sekadar hobi berkebun. Tanaman ini adalah kenangan hidup. Mereka membawa cerita, pengobatan, dan rasa yang telah diwariskan selama ribuan tahun.
Di masa di mana segalanya terasa serba cepat dan modern, rempah-rempah kuno ini menawarkan keseimbangan: keheningan, misteri, dan kedalaman. Mereka mengundang kita untuk bertanya, “Apa yang sudah hilang selama ini?” Dan lebih penting lagi: “Apa yang masih bisa kita hidupkan kembali?”
Jadi, lain kali saat Anda menaburkan basil atau rosemary ke dalam masakan, luangkan sedikit waktu. Rempah-rempah kuno ini bukan hanya bagian dari sejarah. Mereka adalah pengingat bahwa rasa, penyembuhan, dan cerita tak pernah bisa dipisahkan. Dan kadang, untuk menemukannya kembali, yang Anda butuhkan hanyalah sepetak tanah dan sedikit rasa ingin tahu.